Sabtu, 30 Maret 2013

Life Time 6


Sesampai di kampus, aku bertemu Harry. Lalu ia mendekatiku.
"Kuliah disini juga?" Tanya nya sambil meniupkan bubble gum di mulutnya. Aku hanya mengangguk pelan.
"Kenapa bete gitu sih?" Tanya Harry lagi. "Hm.. gapapa, aku duluan ya!" Aku berjalan mendahului Harry dan segera menuju kelas.

"Baiklah! Aku ada di taman jika butuh!" Teriak Harry sambil menuju jalur yang berbeda. Kenapa Zayn dan Selena bisa saling kenal? Apa aku harus menyelidiki ini ?

>SKIP kuliah selesai

Hari ini bete banget, mulai dari nunggu dosen yang telat, dan sahabatku pada absen. Aku memutuskan untuk menemui Harry ditaman.

"Hai Harr..." Kata - kata ku terputus. Aku melihat Harry sedang berpelukan dengan Ariana, anak fakultas decafe. Dia memang tenar. "shit," desis ku sambil berbalik badan dan berniat untuk pulang.

Saat berjalan di lobby, dari kejauhan kulihat Niall ada di tempat parkir. Aku berlari menuju Niall.
"Hei, bukankah kau pulang 1/2 jam lagi?" Niall melirik jam tangannya.
"Darimana kau tau? aku pulang pagi tadi. Dosen ku sakit." jelasku.
Niall mengangguk. "Mau ku traktir ice cream?" Tawar nya. "Boleh!"

Kenapa Niall bisa tau kalau aku penggemar berat Ice cream? ahhh, hari ini tidak begitu buruk. Kami mengendarai motor ku untuk ke kedai ice cream terdekat. "Mau rasa apa?" Tanya Niall.
"Strawberry," jawab ku sambil focus ke hp. "Ok," Niall memesan 2 ice cream, kami duduk di kursi bawah pohon yang disediakan kedai. Udara begitu sejuk.


"Niall tolong bawakan hp ku dulu, aku mau membuang tisu ini," aku menyerahkan hp ku pada Niall.

NIALL POV

senang juga bisa membuat Arina senang. Drtt drt.. Handphone nya bergetar, tanda ada sms. Langsung ku baca. Oh god, ini kan hape Arina? kenapa kau membaca sms nya? ah terlanjur! sudah kebiasaan buruk ku ini.

Text from : Mom
Arin, dimana kau? Mom sudah ada 4 pilihan decorasi pertunangan mu dengan Zayn! Cepat balas!

aa.. apa?? pertunangan? apa maksud dari semua ini??

"Niall, sms dari siapa?" suara itu mengagetkan ku.




Life Time 5


"Hoaaam," aku terbangun pukul 5:40 pagi. Apa yang akan kulakukan sepagi ini?

Drttdrtt.. handphone ku bergetar karena ku pasang profile vibrate,
------------------------------
Text From : Niall Horan
"sudah bangun ya?"

5:40 AM
------------------------------
Ha?? dari mana dia tau aku sudah bangun? benar benar aneh!

Aku tidak membalas pesan itu, ku buka jendela dan menghirup udara pagi.
Ku pandangi seluruh rumput di depan rumah ku, dan.. aku melihat seorang laki - laki dan seorang perempuan, mereka sedang duduk di taman depan sebrang rumah ku sambil menyandarkan sepeda tua berwarna cokelat di  batang pohon.

"Bahagia sekali mereka? Siapa sih itu?" Ku perhatikan wajah nya satu-satu, "Itu Zayn!" desis ku. "sama siapa dia??" perempuan itu asing dimata ku.

"Arina! Ayo bangun, hari ini kamu kuliah kan?" mom ku setengah berteriak dari depan kamar ku,. "Ya mom!" aku bergegas mandi dan berpakaian. "hmm," aku mulai berfikir. Kalau Zayn jatuh cinta dengan perempuan itu, seharusnya bagus dong! Zayn tidak jadi dijodohkan dengan ku! ahaha. Tapi apa benar itu cewek ditaksir Zayn?

Setelah berpakaian aku segera turun dan sarapan. Hanya ada susu dan roti dimeja, mungkin mom baru sibuk. Aku menoleh mencari mom, rupanya ia sedang berada di ruang tamu dengan.. LAPTOP KU ?!?

Aku langsung menghampiri mom. "Mom? apa yang kau lakukan dengan laptop kuu??" kulihat layar laptopku dan melihat apa yang sedang dikerjakan mom.

"Ha?? dekorasi pernikahan? buat apa mom??" Aku kebingungan, dan segera duduk disampingnya sambil melahap roti ku. "Buat kamu sama Zayn lah!!" jawab mom santai.

"apa ?? uhukk uhukkk.." Seperti mendengar halilintar ketika mom menjawab 'buat kamu sama Zayn lah'
seketika tenggorokkan ku seperti tersedak gumpalan besar. Aku segera meneguk susu vanila yang masih berada di meja makan.

"Hati - hati, sudah sana berangkat. Biar ini mom dan mom trisha yang mengurus!" mom menyiap kan tangannya untuk kusalimi. "terserah mom, pokoknya aku dan Zayn tidak akan saling cinta! bye mom!" Aku berlari meninggalkan mom keluar pintu rumah,

"Heh! Apa yang barusan kau bicarakan! Kalian hanya perlu waktu!" ledek mom.
huh aku benar benar kesal! Ups, apakah Zayn masih bersama wanita asing itu?

Aku mencoba melihat kesebrang sambil sembunyi di gerbang garasi rumah ku. rupanya itu Selena, perempuan yang sering Justin ceritakan.. Namun , kenapa ia bersama Zayn ? Ah sudahlah!

Aku mengeluarkan motor dan mengendarai nya.

Saat melewati Zayn dan Selena, aku sengaja meng - gas kencang motor ku.

"RNGGG!!" terdengar menga get kan. Kulirik Zayn dan Selena, benar benar tak terganggu! Mereka asyik sekali. HUH!!




Life Time 4


"Dimana aku?" kulihat kamar mewah berwarna gold dengan tirai coklat.
Ah, untungnya pakaianku masih lengkap. Ups! Tapi pukul berapa ini? Aku melirik jam tanganku, pukul 6 sore! Astaga! Aku harus segera pulang! aku turun dari kasur ukuran queen itu dan mendapati Harry tidur dilantai. "Harry ?!" Jeritku spontan. "HAA?? GEMPAAA!" Teriak Harry yang kaget dengan suara teriakkan ku tadi. "Tidak harry, tidak ada gempa!" Aku membantunya bangun. "Jelaskan kenapa aku bisa disini ?!" Aku memandang Harry dengan pandangan curiga.

"Kau mabuk," Jelas nya -Harry-.
"Apa ?! Benarkah!?" memang sebelumnya aku belum pernah mabuk.
"Ya, untungnya kau tidak ku-apa apa kan, hahah!" Harry tertawa nakal.
"ah sudah! Dimana Justin, Zayn dan Niall ?" Aku merapikan baju ku dan menuju pintu keluar.
"Mereka masih dirumah Louis," Harry berbaring lagi dilantai. "Harry, antar aku pulang ya?" kupasang puppy face. "Huft, baiklah!" Harry terkantuk  kantuk sambil berjalan.

Sejak saat itu aku menganggap Harry anak yang baik - baik

>SKIP

aku sampai dirumah, tapi, kenapa ada sandal perempuan lain dirumah ini. Aku memutuskan untuk melihat dari jendela dulu. "Hah? Mom trisha ??" desis ku melihat mom nya Zayn dirumah ku. Ia sedang asyik berbincang dengan my mom. Karena penasaran aku menguping,

"Ya, saya sangat setuju. Lagi pula mereka sudah dewasa kan," ujar mom trisha sambil tertawa,
Apa yang mereka bicarakan?
"betul, mereka sering pergi bersama. Cocok!" lanjut mom ku. "Jadi, kapan mereka bertunangan,"

DEG.. sedikit demi sedikit aku mengerti apa yg mereka bicarakan.

"aku ? dengan Zayn ? Tunangan?" buru - buru kulepas sandal ku dan masuk ke rumah dengan tergesa - gesa.
"Hey, arina. Sudah pulang? Dimana Zayn ?" Baru saja masuk sudah di keroyok segini banyak pertanyaan.
"Ya, zayn masih dirumah Louis. Party," Jawabku sambil menyalimi tangan mom Trisha dan momku.

"Kau terlihat lelah," Mom ku menepuk pundakku. "Dia terlihat lelah, sepertinya kita harus bicarakan ini lain kali lagi, aku pulang dulu," Mom trisha berpamit pulang.


Aku duduk diruang tamu, siap siap untuk menanyakan apa saja yang dibicarakan mom tadi.
"Mom,"
"Ya?"
"Kau .. mau menjodohkan ku dengan Zayn ?!" Nada ku sedikit tinggi.
"Ya, kenapa tidak? Dia tampan, sopan, dan mau menemani kau kemana saja," Mom tersenyum padaku.
"Tapi mom, aku lebih memilih Justin! Zayn .. aku dan dia hanya sahabatan," Aku mencoba menjelaskan.
"Kau gila? Justin are gone!" Mom meneguk segelas teh di meja kecil cokelat disamping sofa.
"Maaf aku belum menceritakan ini, tadi sore aku dan Zayn pergi mencari Justin. Dan dia sekarang sudah menjadi artis mom!!" Aku menatap mom penuh harap.

"sepertinya kau lelah rin," Ujar mom seperti tak percaya dengan perkataanku.
"Lagipula, pukan ketenaran justin yang aku cari! Aku cuma tidak.. tidak bisa bersama Zayn!" Aku berlari meninggalkan mom kekamar.

"Kau hanya perlu lebih dekat lagi dengan Zayn! Mom kira 8 tahun belum cukup!" Ledek mom tak henti hentinya.
Aku tidak ada persaan sedikit pun dengan Zayn, tapi selama ini dia yang berjasa, dia yang perduli, dia yang selalu ada. Aku cuma belum mau serius berhubungan dengan nya.

Aku membuka laptopku, dan seperti biasa, check email, Yadoo (kayak skype, ini karanganku doang lohyaa), dan twitter.
Niall Horan want to add you to be contacts.

Aku meng-accept permintaan itu. "Pasti ia dapat yadoo ku dari Justin," Desah ku.

NIALL HORAN POV

Your request is accepted. Arina now is contacts.
"yeah!" batinku.

Aku segera mengeklik tanda call di laptopku.

tuutt... tuttttt..
"Hello ?" Gambar Arina mulai muncul. Ia terlihat sangat lelah.
"Niall ?" Lanjutnya.
"Hey arina, maaf aku dan Zayn tadi masih di rumah Louis," Jelas ku.
"Kami tak mungkin menyuruh mu tidur dirumah super kotor itu hehehe," Aku menyungginggkan senyum.
Namun ia benar benar terlihat lelah. Apa saja yang telah Harry lakukan pada Arina??
"Iya tidak apa - apa. niall aku sangat mengantuk. tadi buka laptop hanya untuk check email," Seru Arina sambil menguap.
"Baiklah bye. Nice dream Arin!" Aku meng-end call Yadoo ku.

ARINA POV
Kenapa ya Niall menghubungi ku ? Masak hanya untuk memberi tahu itu ? Misterius



Jumat, 15 Maret 2013

Life Time 3


"Siapa juga yang mau jadi pacar nya si-tukang marah!" Ejek Zayn. Apa dia bilang ? Tapi tidak apalah, daripada dia marah. "Dia selalu memikirkan mu Just, manamungkin aku mau memacarinya!" lanjut Zayn sambil di sambut gelak tawa seisi mobil.
"Baiklah, kita sampai!" Ujar Niall kegirangan yang sepertinya sudah kelaparan.
Kami memesan empat chicken wings, dan beberapa pizza. Keadaan terlalu gila, fans Justin mengerubungi kami.
"Huft, kau tak memilih salah satu dari mereka just?" Tanya Zayn kepo. "Tidak, Usher melarangku. Aku tau seberapa besar cinta fans pada ku. Tapi suatu saat mereka bisa menjadi gila bila benar benar mendapatkan apa yang diinginkan." Jelas Justin sok bijak, lalu semua tertawa. Kenapa Justin tak memilih saja salah satu dari mereka? mereka cantik- cantik. melebihi aku.

"Sekarang kita kemana?" Tanya ku, "ke party Louis" jawab Niall singkat dengan mulutnya yang penuh burger. Kami sampai dirumah besar berpager hitam menjulang tinggi. Suara musik sudah terdengar kencang dari luar. Pesta memang sudah dimulai 13 menit yang lalu. Tapi aku tidak terlalu suka pesta.

AKu memasuki rumah itu. Keadaannya sangat mengerikan, musik berdetak kencang, lampu seperti hampir putus, dan beberapa botol berserakan. Beberapa teman Louis juga mabuk. "Haha! This is party!" Zayn langsung berlari membaur ke kerumunan. Begitu juga Niall dan Justin. Aku hanya duduk di dekat taman depan Louis.

Aku memandangi langit biru yang membentang dihadapanku. Sekarang aku sudah bertemu Justin, apa yang belum tercapai dalam hidupku?

"Uhm, maaf nona. apa aku menganggu mu ?" Tanya seseorang membangunkan lamunanku. Aku menoleh kearah lelaki berambut curl yang tanpa disuruh sudah duduk disamping bangku ku. "Tidak," Aku menjawab singkat dan bergeser sedikit menjauh dari dia. Aku takut, sepertinya ia mabuk.

"Sendirian ?" Tanya nya tapi tidak menatapku.
"Tidak, aku bersama Zayn dan Niall." Aku memandangi lelaki itu dari bawah sampai atas. Ia cukup keren, dannn muda!
"Zayn ? Dia temanku juga," Ucap lelaki itu, "Siapa nama mu ?" Lanjutnya.
"Arina, kamu?"
"Harry," Jawabnya cool.

"Harry ? good name" aku tersenyum pada nya.
Ia balik tersenyum menampilkan dimples nya. Sangat manis. "Jadi kau sudah lama kenal dengan Zayn ?"
"Ya, 8 tahun." jawabku. "cukup lama, bagaimana kalau ku ambilkan minum ?" ia segera berlari menuju dalam rumah Louis dan kembali membawa dua cangkir minuman.

"Berakohol ?" tanyaku sambil memandangi dan mencium bau minuman itu.
"Ya, sedikit. Haha!" Harry langsung meneguk cangkir itu.
"kuharap aku tidak mabuk!" Aku dengan cepat menghabiskan cangkir itu. Rasanya ingin tambah.
"Mau tambah nona?" Tanya Harry dengan senyuman nakal nya.
"Ya," Aku balas tersenyum, aku tak tahu kenapa minuman ini begitu menggoda, apakah karena orang yang mengambil -kannya ?

SKIP

"ouch!!" Kepala ku benar benar pusing, aku terbangun dari tidur ku. Aku melihat sekeliling.
"ASTAGA!!!!!"

Life Time 2


"Dia kenapa ?!" Aku tidak sabar menunggu jawaban Zayn. "dia masih hidup," Jawab Zayn singkat. "katakan dimana ?!" Aku menatap Zayn dalam. Seketika dari matanya menunjukkan sebuah adegan dimana saat badai 2005 itu terjadi. Kulihat Justin sedang bersembunyi di bawah pepohonan sampai badai itu datang menerpa, kutatap terus menerus sampai ada suatu keinginanku untuk mencari Justin, lalu aku bertanya kepada Zayn "apa kau mau mebantuku ?" tanya ku, Zayn menjawab "apapun akan kubantu karena kau sahabatku, tapi membantu dalam hal apa?"

"Untuk mencari Justin," jawabku dengan mantap. "Apa kau gila ? Dikota yang sebesar ini, ingin mencari seseorang bernama Justin ?" Zayn mengalihkan pandangan dariku. "Tapi tadi kau bilang Justin masih hidup ?" Aku mengernyitkan dahi. "Aku tak sengaja melihatnya di jalanan.." lirih Zayn. "APA?! Ayo cari sekarang!" Aku menarik tangan Zayn. Kami menaiki bus bertujuan jalanan yang dimaksud Zayn.

"Jadi kau sempat melihatnya sedang melakukan apa?” Tanya ku pada Zayn sambil memandangi jalanan melalui jendela persegi bus itu. “di avon theater,” Jawab Zayn yang serius dengan iPhone nya. “Excuse me, maksud anda Justin Bieber?” Celetuk seseorang dari belakang kursi bus yang ku duduki. Aku langsung menoleh kearahnya. Ia lelaki berambut blonde, “Maaf ikut campur, tapi aku tahu ia ada dimana,” lelaki itu memantapkan perkataannya.

“Dimana dia kumohon!” Zayn terheran – heran dengan perkataanku. Aku jarang sekali memohon pada orang yang belum ku kenal, tapi ini genting. “Maaf, siapa nama anda?” seru Zayn dengan nada ketus. Aku melirik Zayn dan mengisyaratkan agar ia lebih sopan. “Niall, tunggu sebentar” Lelaki bernama Niall itu mengambil iPhone nya dan menelfon seseorang.

“Boo bro! Aku Niall, dimana kau sekarang ?”  Seru Niall di handphone nya.
“Baiklah, aku segera kesana,” Sambung Niall. Ia mematikan handphone nya.
“dimana dia?” tatapku penuh harap. “Sebaiknya jangan terlalu berharap,” Bisik Zayn dengan nada mengejek ke arahku. “Dia di studio, ikut aku. Sebentar lagi kita sampai,” ucap Niall.

Justin? Di studio ? baru 8 tahun tak bertemu Justin sudah masuk studio? Gila. Kukira ia mati diterpa badai. –Zayn.
“Zayn stop melamun, ayo kesana,” Aku membangunkan Zayn yang terpaku pada lamunannya dan menunjuk satu studio bernama Def Jam Island. Rekaman yang katanya memproduksi Justin. “Semoga dia Justin Drew Bieber,” Desah Zayn mengejek. “Jika kau terus begini, silahkan pergi tinggalkan aku!” Aku mengikuti Niall. Sepertinya dia seumuran denganku namun lebih tua setahun.

Kami memasuki studio itu. Agak lembab dan gelap. “As long as you lollolololololololoololol..” Ku dengar suara Justin, spontan aku berteriak “JUSTIN ?” aku segera mencari arah suara itu. Zayn mengikuti dari belakang. “Calm girl,” Desah Niall menahan tanganku. “Kau tak tahu apa – apa,” Aku menatap Niall dengan tatapan ‘membunuh’. Zayn dan Niall saling bertatapan. “Apa dia normal ?” Bisik Niall pada Zayn yang terdengar menusuk telinga ku.

Aku berbalik badan dan menatap mereka –Zayn dan Niall- yang sedang berbisik – bisik tentang ku. “Hey! Jaga mulut mu, aku dengar itu!” Aku kembali berjalan menyusuri lorong studio itu. Aku memanggil nama Justin, keadaan seperti saat badai itu. Benar benar pengap.
“Who’s that sound?” Terdengar lagi suara Justin yang menggema. “Me!! I’m Arina Thourso !” Kulihat seorang lelaki menggunakan topi hitam berjaket kulit hijau dan bersepatu gold. “Justin?” desahku. Lelaki itu menoleh.

Aku menitikan air mataku. 8 tahun silam terbayang – bayang kembali. Sekarang aku menemukannya. “A…arina ?” Justin memelukku erat. Zayn menatap ku lesu sambil mencoba tersenyum. “hey, I miss you!” Justin tersenyum sambil menitikan air matanya. “Ku kira kau mati,” Celetuk Zayn. “Zayn? Sopan sedikit dong!” Aku menginjak kaki Zayn. “siapa dia?” Justin menunjuk Zayn. “Aku? Aku yang menyelamatkan Arina dari badai itu! Haha, kejadiannya begitu cepat,” Zayn kira semua orang akan tertawa mendengar perkataannya itu?

Kru Justin dan aku menatapnya aneh. “uhm, baiklah..” Zayn menunduk. Kami semua tertawa, “Bagaimana kalau kita rayakan ini ?” Justin meraih iPhone nya. “Aku tau dimana party yang bagus,” Saran Niall. “Where?” Tanya ku. “Rumah Louis, dia sahabatku. He’s Party animal! Haha, dia mudah berteman kok! Pukul 3 sore,” Niall menunjukkan denah rumah Louis. “Ok, bagaimana kalau ke nando’s dulu?” Seru Zayn yang terlihat mulai lapar. “Ide bagus,”

Kami semua berangkat menggunakan limousine milik Justin. Sebenarnya aku ingin naik mini cooper nya, namun tak akan cukup untuk kami ber 5! (Niall, Zayn, Aku ,Justin, Kenny)
“Justin, dimana saat aku memanggil – manggilmu dahulu?” Tanya ku yang masih penasaran. “Aku mendengar suara mu. Namun semakin lama aku mencari sumber suara itu, semakin aku tersesat kedalam hutan. Semakin kuikuti suara mu, aku semakin terjebak, hingga badai datang dan membawaku jatuh kedepan sekolahan di Stratford,” Jelas Justin.

“Jadi.. dia pacar mu?” Justin menunjuk Zayn dan menaikkan alis nya. Sepertinya ia menggoda ku. “TIDAK!!!” Aku setengah berteriak yang membuat Zayn mendengar itu dan menatapku sendu. Apakah aku baru saja menyakiti perasaan Zayn? Zayn bukan itu maksudku..

Live Time 1


February 2005
Aku berjalan terus berjalan, menyusuri lapangan penuh rumput bersama angin yang sejuk di senja ini. Aku terus memanggil – manggil namanya, “Justin!! Justin!! Keluarlah! Aku lelah!” Pekikku. Namun anak lelaki itu tak kunjung menampakkan dirinya. “Baik Justin, aku mengalah! Keluarlah!” Aku meletakkan tanganku di depan lutut dengan badan sedikit membungkuk, nafas ku tak teratur. “Hey, kau mencari siapa ?” Seseorang mengagetkanku. Aku menoleh, terlihat anak lelaki sebaya dengan ku ia memiliki mata dan bibir yang indah. “kk..kau siapa?” Tanya ku. “Aku? Aku Zayn. Tadi aku diperintahkan ayahku untuk menyuruhmu pulang. Sebentar lagi akan ada hujan angin,” jelas anak yang bernama Zayn itu.

“Terimakasih atas pemberitahuan mu, tapi aku harus mencari temanku dulu. Ia masih bersembunyi.” Aku berjalan meninggalkan Zayn dan memanggil manggil nama Justin lagi. “tidak bisa,” Zayn menahan pundakku. “Aku tidak bisa meninggalkan Justin sendirian!” aku terus memanggil manggil justin. “Lihat! Awas!” Hujan angin benar benar datang, atap atap rumah bertebaran. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan, namun Zayn dengan cekatan menarik kerah baju ku dan membawa ku pergi menjauh dari badai tersebut. Kami sampai kesuatu tempat.

“Kau bilang hujan angin? Ini Badai!!” ketus ku pada Zayn seraya merapikan kerah baju-ku. “Maaf. Kau tak kenapa-napa ?  Temanmu bernama Justin ya ?” Kami berdua duduk di bawah pohon kelapa. “Iya. Oh tidak! Aku harus mencarinya!” Aku segera bangkit, namun Zayn melarangku dan mengantarku pulang.
“Arina, katakan pada ibu dimana Justin ??” Seru Ibu dengan nada tinggi. “Aku tak tahu bu.. kami sedang bermain petak umpat tadi. Aku terus menerus memanggil namanya namun ia tak kunjung keluar!” Jawabku sambil terisak.
NOW

Sejak saat itu aku aku tidak pernah bertemu Justin. Aku tidak tahu dimana dia, bahkan apakah dia masih hidup? Huft, benar benar pertanyaan yang sangat menggantung. “Arina! Ada Zayn dibawah!” Seru ibu, ya aku berteman baik dengan Zayn sejak itu. Ia memiliki sifat – sifat yang mirip dengan Justin, namun ia lebih serius dan dewasa. Aku turun dari kamar ku dan menghampiri Zayn di ruang tamu. “Ada apa Zayn ?” kubuka toples berisi banana cookies. “Kau ingat Justin ?” Zayn membuka pembicaraan. Glek.. Aku menelan banana cookies itu dan menatap lekat Zayn. Semua nya berubah aku melihat wajah Justin di wajah Zayn, aku melihat masa kanak – kanakku bersama Justin di mata Zayn.

Aku benar benar melihat Justin dewasa di wajah Zayn. Seolah – olah Justin masuk ketubuh Zayn dan hidup didalam tubuh itu. “Justin?” Desahku. “Apa?” Suara berat Zayn membangunkan lamunanku. “Ya aku ingat. Memangnya kenapa ?” Zayn menatapku lekat, “dia.. dia…”