"Dia kenapa ?!" Aku tidak sabar menunggu jawaban Zayn. "dia masih hidup," Jawab Zayn singkat. "katakan dimana ?!" Aku menatap Zayn dalam. Seketika dari matanya menunjukkan sebuah adegan dimana saat badai 2005 itu terjadi. Kulihat Justin sedang bersembunyi di bawah pepohonan sampai badai itu datang menerpa, kutatap terus menerus sampai ada suatu keinginanku untuk mencari Justin, lalu aku bertanya kepada Zayn "apa kau mau mebantuku ?" tanya ku, Zayn menjawab "apapun akan kubantu karena kau sahabatku, tapi membantu dalam hal apa?"
"Untuk mencari Justin," jawabku dengan mantap. "Apa kau gila ? Dikota yang sebesar ini, ingin mencari seseorang bernama Justin ?" Zayn mengalihkan pandangan dariku. "Tapi tadi kau bilang Justin masih hidup ?" Aku mengernyitkan dahi. "Aku tak sengaja melihatnya di jalanan.." lirih Zayn. "APA?! Ayo cari sekarang!" Aku menarik tangan Zayn. Kami menaiki bus bertujuan jalanan yang dimaksud Zayn.
"Jadi kau sempat melihatnya sedang melakukan apa?” Tanya ku pada Zayn sambil memandangi jalanan melalui jendela persegi bus itu. “di avon theater,” Jawab Zayn yang serius dengan iPhone nya. “Excuse me, maksud anda Justin Bieber?” Celetuk seseorang dari belakang kursi bus yang ku duduki. Aku langsung menoleh kearahnya. Ia lelaki berambut blonde, “Maaf ikut campur, tapi aku tahu ia ada dimana,” lelaki itu memantapkan perkataannya.
“Dimana dia kumohon!” Zayn terheran – heran dengan perkataanku. Aku jarang sekali memohon pada orang yang belum ku kenal, tapi ini genting. “Maaf, siapa nama anda?” seru Zayn dengan nada ketus. Aku melirik Zayn dan mengisyaratkan agar ia lebih sopan. “Niall, tunggu sebentar” Lelaki bernama Niall itu mengambil iPhone nya dan menelfon seseorang.
“Boo bro! Aku Niall, dimana kau sekarang ?” Seru Niall di handphone nya.
“Baiklah, aku segera kesana,” Sambung Niall. Ia mematikan handphone nya.
“dimana dia?” tatapku penuh harap. “Sebaiknya jangan terlalu berharap,” Bisik Zayn dengan nada mengejek ke arahku. “Dia di studio, ikut aku. Sebentar lagi kita sampai,” ucap Niall.
Justin? Di studio ? baru 8 tahun tak bertemu Justin sudah masuk studio? Gila. Kukira ia mati diterpa badai. –Zayn.
“Zayn stop melamun, ayo kesana,” Aku membangunkan Zayn yang terpaku pada lamunannya dan menunjuk satu studio bernama Def Jam Island. Rekaman yang katanya memproduksi Justin. “Semoga dia Justin Drew Bieber,” Desah Zayn mengejek. “Jika kau terus begini, silahkan pergi tinggalkan aku!” Aku mengikuti Niall. Sepertinya dia seumuran denganku namun lebih tua setahun.
Kami memasuki studio itu. Agak lembab dan gelap. “As long as you lollolololololololoololol..” Ku dengar suara Justin, spontan aku berteriak “JUSTIN ?” aku segera mencari arah suara itu. Zayn mengikuti dari belakang. “Calm girl,” Desah Niall menahan tanganku. “Kau tak tahu apa – apa,” Aku menatap Niall dengan tatapan ‘membunuh’. Zayn dan Niall saling bertatapan. “Apa dia normal ?” Bisik Niall pada Zayn yang terdengar menusuk telinga ku.
Aku berbalik badan dan menatap mereka –Zayn dan Niall- yang sedang berbisik – bisik tentang ku. “Hey! Jaga mulut mu, aku dengar itu!” Aku kembali berjalan menyusuri lorong studio itu. Aku memanggil nama Justin, keadaan seperti saat badai itu. Benar benar pengap.
“Who’s that sound?” Terdengar lagi suara Justin yang menggema. “Me!! I’m Arina Thourso !” Kulihat seorang lelaki menggunakan topi hitam berjaket kulit hijau dan bersepatu gold. “Justin?” desahku. Lelaki itu menoleh.
Aku menitikan air mataku. 8 tahun silam terbayang – bayang kembali. Sekarang aku menemukannya. “A…arina ?” Justin memelukku erat. Zayn menatap ku lesu sambil mencoba tersenyum. “hey, I miss you!” Justin tersenyum sambil menitikan air matanya. “Ku kira kau mati,” Celetuk Zayn. “Zayn? Sopan sedikit dong!” Aku menginjak kaki Zayn. “siapa dia?” Justin menunjuk Zayn. “Aku? Aku yang menyelamatkan Arina dari badai itu! Haha, kejadiannya begitu cepat,” Zayn kira semua orang akan tertawa mendengar perkataannya itu?
Kru Justin dan aku menatapnya aneh. “uhm, baiklah..” Zayn menunduk. Kami semua tertawa, “Bagaimana kalau kita rayakan ini ?” Justin meraih iPhone nya. “Aku tau dimana party yang bagus,” Saran Niall. “Where?” Tanya ku. “Rumah Louis, dia sahabatku. He’s Party animal! Haha, dia mudah berteman kok! Pukul 3 sore,” Niall menunjukkan denah rumah Louis. “Ok, bagaimana kalau ke nando’s dulu?” Seru Zayn yang terlihat mulai lapar. “Ide bagus,”
Kami semua berangkat menggunakan limousine milik Justin. Sebenarnya aku ingin naik mini cooper nya, namun tak akan cukup untuk kami ber 5! (Niall, Zayn, Aku ,Justin, Kenny)
“Justin, dimana saat aku memanggil – manggilmu dahulu?” Tanya ku yang masih penasaran. “Aku mendengar suara mu. Namun semakin lama aku mencari sumber suara itu, semakin aku tersesat kedalam hutan. Semakin kuikuti suara mu, aku semakin terjebak, hingga badai datang dan membawaku jatuh kedepan sekolahan di Stratford,” Jelas Justin.
“Jadi.. dia pacar mu?” Justin menunjuk Zayn dan menaikkan alis nya. Sepertinya ia menggoda ku. “TIDAK!!!” Aku setengah berteriak yang membuat Zayn mendengar itu dan menatapku sendu. Apakah aku baru saja menyakiti perasaan Zayn? Zayn bukan itu maksudku..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar