February 2005
Aku berjalan terus berjalan, menyusuri lapangan penuh rumput bersama angin yang sejuk di senja ini. Aku terus memanggil – manggil namanya, “Justin!! Justin!! Keluarlah! Aku lelah!” Pekikku. Namun anak lelaki itu tak kunjung menampakkan dirinya. “Baik Justin, aku mengalah! Keluarlah!” Aku meletakkan tanganku di depan lutut dengan badan sedikit membungkuk, nafas ku tak teratur. “Hey, kau mencari siapa ?” Seseorang mengagetkanku. Aku menoleh, terlihat anak lelaki sebaya dengan ku ia memiliki mata dan bibir yang indah. “kk..kau siapa?” Tanya ku. “Aku? Aku Zayn. Tadi aku diperintahkan ayahku untuk menyuruhmu pulang. Sebentar lagi akan ada hujan angin,” jelas anak yang bernama Zayn itu.
“Terimakasih atas pemberitahuan mu, tapi aku harus mencari temanku dulu. Ia masih bersembunyi.” Aku berjalan meninggalkan Zayn dan memanggil manggil nama Justin lagi. “tidak bisa,” Zayn menahan pundakku. “Aku tidak bisa meninggalkan Justin sendirian!” aku terus memanggil manggil justin. “Lihat! Awas!” Hujan angin benar benar datang, atap atap rumah bertebaran. Aku tak tahu apa yang harus dilakukan, namun Zayn dengan cekatan menarik kerah baju ku dan membawa ku pergi menjauh dari badai tersebut. Kami sampai kesuatu tempat.
“Kau bilang hujan angin? Ini Badai!!” ketus ku pada Zayn seraya merapikan kerah baju-ku. “Maaf. Kau tak kenapa-napa ? Temanmu bernama Justin ya ?” Kami berdua duduk di bawah pohon kelapa. “Iya. Oh tidak! Aku harus mencarinya!” Aku segera bangkit, namun Zayn melarangku dan mengantarku pulang.
“Arina, katakan pada ibu dimana Justin ??” Seru Ibu dengan nada tinggi. “Aku tak tahu bu.. kami sedang bermain petak umpat tadi. Aku terus menerus memanggil namanya namun ia tak kunjung keluar!” Jawabku sambil terisak.
NOW
Sejak saat itu aku aku tidak pernah bertemu Justin. Aku tidak tahu dimana dia, bahkan apakah dia masih hidup? Huft, benar benar pertanyaan yang sangat menggantung. “Arina! Ada Zayn dibawah!” Seru ibu, ya aku berteman baik dengan Zayn sejak itu. Ia memiliki sifat – sifat yang mirip dengan Justin, namun ia lebih serius dan dewasa. Aku turun dari kamar ku dan menghampiri Zayn di ruang tamu. “Ada apa Zayn ?” kubuka toples berisi banana cookies. “Kau ingat Justin ?” Zayn membuka pembicaraan. Glek.. Aku menelan banana cookies itu dan menatap lekat Zayn. Semua nya berubah aku melihat wajah Justin di wajah Zayn, aku melihat masa kanak – kanakku bersama Justin di mata Zayn.
Aku benar benar melihat Justin dewasa di wajah Zayn. Seolah – olah Justin masuk ketubuh Zayn dan hidup didalam tubuh itu. “Justin?” Desahku. “Apa?” Suara berat Zayn membangunkan lamunanku. “Ya aku ingat. Memangnya kenapa ?” Zayn menatapku lekat, “dia.. dia…”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar